Jumat, 11 Januari 2013

Dua Cangkir Kopi

Waktu yang menunjukan lewat tengah malam, di luar sana angin menghembuskan nyanyian nya dengan sangat keras, membuat aku memilih untuk menghabiskan malamku dengan secangkir kopiku sendirian.

Aku akan menunggu waktu dimana kita akan menghabiskan malam kita dengan dua cangkir kopi kita bersama. Aku, Kamu, dan dua cangkir kopi kita

 

Selamat malam, Sayang..

1 komentar:

  1. Hai, kopi yang ku nikmati malam ini terasa aneh.
    Saya sendiri bingung mengapa kopi hitam ini tidak sehitam dulu.
    Iya dulu, seperti kopi hitam yang kau sajikan untuk ku.
    Kopi hitam tanpa gula, untuk mengetahui cita rasa kopi yang kau sajikan.
    Cangkir nya pun terasa kosong, padahal kopi ini telah mengepul karena di sajikan terlalu panas.
    Apa mungkin terlalu banyak air yang saya tuang ke dalam cangkir ini?
    Atau kau lupa bagaimana cara nya dulu kau menyajikan kopi ini?
    Memang kopi hitam ini terlihat sederhana dan tidak ada yang istimewa.
    Tapi buat saya di balik semua itu, kopi hitam ini terasa sangat istimewa karena tangan terampilmu yang membuatnya.
    Saya mulai belajar bagaimana membuat kopi hitam yang kau sebut istimewa.
    Mulai dari menghitung berapa liter air yang di tuangkan,
    Seperti saya belajar menghitung berapa lama kau meninggalkan.
    Saya mulai belajar bagaimana kopi ini terasa nikmat,
    Seperti saya mencoba belajar bagaimana menikmati hari hari yang kau lalui dengan tuan yang sajikan kopi hitam itu.
    Ah sial, kopi ini masih belom terasa nikmat.
    Mata saya pun mulai berayun karena kopi yang saya tunggu belum sempurna.
    Ah sudahlah, mungkin esok kopi yang saya idamkan itu kembali.
    Mungkin sekarang kau sedang asik berbincang dengan tuan di temani kopi yang istimewa itu.
    Sedangkan saya hanya berusaha menikmati kopi ini tanpa pemanis yang berada di depan saya.
    Saya masih menunggu kopi hitam yang kau sajikan, tanpa pernah menyicipi kopi lainya.

    BalasHapus