Sabtu, 20 Oktober 2012

Kaget Gaul

Dear adik-adik perempuan yang mencoba gaul karena lingkungan,

Coba sekarang gue mau nanya apa sih definisi gaul yang kalian pikirin? Rambut panjang terurai dengan poni yang hits itu, nenteng BB dan iPhone beserta iPad kalian kemana-mana, keluar masuk mall dan hang out setiap malam terus di update, bolak balik ke salon setiap dua hari sekali, keluar masuk club setiap malam minggu pulang-pulang ke rumah dalam ke adaan gontai dan besok pagi nggak inget apa-apa. Ah, yaudah lah terkadang memang itu pilihan hidup setiap orang, semua orang bebas nentuin apa pilihan hidupnya

Gue nggak pernah bermasalah atau merasa risih sama gaya hidup siapapun karena ya memang life is choice, gue sendiri pun punya pilihan dan gaya hidup gue sendiri yang sampai detik ini masih membuat gue nyaman dan bahagia tanpa perlu memaksa menjadi orang lain, everyday gue lebih memilih rambut cepol atau kucir kuda ya karena memang itu pilihan gue dan gue nyaman dengan itu. Orang yang paling bahagia itu adalah orang yang cuek.

Gue mahasiswi salah satu universitas swasta ternama di Jakarta yang memang kebanyakan orang tau di dalam kampus gue ini banyak 'ayam kampus' ya itulah sebutan nya, sedih sih emang tapi setelah gue melihat dengan mata kepala gue sendiri kalo memang its real, banyak yang terlihat bergaya seperti ayam, atau bahkan ada yang udah nggak malu lagi buat menunjukan dia itu seorang pok pok pok pok...

balik lagi ke kaget gaul, menurut gue kebanyakan cewek yang sampe rela menjual harga diri nya demi kebagahagian nya sesaat itu perempuan-perempuan kaget gaul. mereka nggak pernah bisa bersyukur dengan apa yang orang tua mereka kasih dan punya. gue yakin kok semua orang tua juga mau ngasih apa aja yang anaknya mau, sebagai contoh, gue yakin nyokap gue mau beliin gue 10 mobil sekarang juga kalau gue minta dan kalau memang mereka punya uang. nah kalau nggak punya? bersyukur memang sulit, tapi kalau terus mendengak ke atas nggak akan ada habisnya. Daripada sibuk ngikutin zaman dengan memaksakan diri menjadi orang lain atau memiliki yang orang lain punya, kenapa nggak mikirin kapan lulus, cepet lulus kuliah, terus kerja biar bisa punya uang halal buat beli semua yang di pengen.

Nggak kuat ngeliat lingkungan, rasa ingin buat memiliki apa yang banyak orang punya, tapi kondisi keuangan keluarga yang nggak mendukung mungkin jadi salah satu faktornya. Setelah mereka dapetin semua yang mereka ingin beli mungkin mereka punya semuanya, tapi satu hal mereka kehilangan mahkota mereka sebagai perempuan, sebuah harga diri. Yang nggak akan pernah bisa di beli pake rupiah, sen, dolar, kepingan emas dan perak semua jenis mata uang sekalipun nggak akan pernah bisa mengembalikan mahkota mereka.

Ya begitulah kerasnya Jakarta, emang Jakarta keras tapi nggak semua orang di dalam nya juga keras jadi pandailah bergaul, pintar lah bersyukur dan be your self, dik. Hidup itu merunduk ke bawah, karena kalau mendengak ke atas nggak akan pernah sampai ke tujuan, di atas awas masih ada awan yang lebih tinggi.